Minggu, 29 Juni 2014

TEMBAK

politik, politik 2014, pemilu 2014, gue jadi tim sukses, capres di pemilu 2014, capres, pak ben,


Seminggu yang lalu, gue pindah ke Bogor. Alasan gue tinggal di Bogor adalah, karena pekerjaan. Sekarang gue kerja sebagai timses (tim sukses) salah satu Capres di Pemilu 2014. Gue bisa kerja disini gara-gara gak sengaja pas makan di warteg, gue ngobrol sama orang dari timses Capres ini. Kita ngobol-ngobrol, eh kita nyambung, dia tertarik sama gue, akhirnya dia nembak gue dan kita jadian. Eh, gak gitu deng. "mas Salam, kamu pinter banget toh, kita satu visi, kamu mau gak ikut gabung di timses" ajaknya, sambil menyalakan sebatang rokok. "maaf mas, saya gak tertarik" tolak gue. Gue emang gak punya kertetarikan masuk dunia politik, apalagi sampe masuk jadi timses. Setelah selesai makan, gue membuka dompet "berapa Bu?". "semuanya jadi 15000 mas" kata si Ibu warteg. Pas ngeliat dompet, oh tidak isinya cuma tinggal seribu. Gimana nih. Gue panik.



Akhirnya gue memberanikan diri buat negosiasi sama Ibu warteg. "Bu, saya cuma punya seribu, Ibu mau nerima apa enggak terserah Ibu, saya cuma punya segini". "apa-apaan kamu hah!" Ibu warteng nyelepet gue pake serbet. "adaaww!!" gue coba menghindar. "kurang ajar kamu ya!!" si Ibu kesal dan bersemangat nyelepet gue. "ampun bu! ampun!" gue gak berdaya. Orang-orang yang lagi makan pada ngeliatin kita, seperti tukang kerupuk, tukang kredit, tukang becak, semua pada ngeliatin. Gue di pegangin sama Abang-abang dari belakang "Bayar gak lo! bayar!!" teriak si Abang. "ampun bang ampuuuuun!" gue udah pasrah banget ini. "nih saya yang bayar, lepasin dia" si mas-mas yang tadi ngobrol sama gue, menyodorkan uang 15000 ke Ibu warteg. Akhirnya gue dilepasin. "mas..." gue memandang Mas itu dengan nanar. "nama saya Ferdi, jangan dipikirkan, sekarang kamu akan jadi timses kami" dia membuka tangan. Guepun menyambut tangannya dan kami bersalaman. Sehari setelah kejadian itu, gue dia ajak sama mas Ferdi ke kantor cabang yang ada di Tangerang. Disana kita ngobrol-ngobrol tentang gue yang mau ditempatin dimana. Setelah menuai beberapa pertimbangan, akhirnya gue di tempatin di Bogor.

Di Bogor, fasilitas yang gue dapatkan sangat lumayan. Gue tinggal di sebuah rumah petak, yang di dalamnya ada tv, tempat tidur, kamar mandi, kipas angin, kulkas, komputer, internet, dan lain-lain. Yang gue kerjakan disini adalah menulis artikel tentang partai dan si Capres. Gue juga sering diajak rapat mengenai kisruh politik yang terjadi akhir-akhir ini.

Sehabis maghrib, gue mendapat pesan dari ketua kader divisi 4, yang isinya malam ini jam 12 akan diadakan rapat rahasia. Jam 10 malam, gue di jemput sama ketua kader divisi 2 alias mas Ferdi yang ngerekrut gue. "mas ini kok rapatnya malem banget si" tanya gue. "ini rapat darurat, semua petinggi kader hadir" jawabnya, sambil tetap fokus menyetir. "hah? rapat darurat? tentang apa itu mas?" tanya gue, lagi. "udah nanti kamu juga tau".

Sesampainya di tempat. Semua petinggi kader sudah berkumpul dan rapatpun dimulai. Rapat dipimpin langsung oleh sang Capres. Ini pertama kalinya gue ngeliat langsung si Capres, sebelumnya gue cuma bisa ngeliat di tv. disini kita sebut aja Capres Merah. "alasan saya mengumpulkan kalian disini adalah tentang kondisi politik kita yang terus tersudut" ucap sang Capres dengan serius. "kita di sundut! kita di jelek-jelekkan! kita di fitnah! saya tidak terima semua itu!" lanjutnya berapi-api. "saya dapat surat dari orang yang menjelekkan kita, dia ingin bertemu dengan kita besok siang, dan saya akan menemuinya, saya butuh orang-orang hebat untuk menemani saya besok".

Pemilihan kader untuk menemani pak Capres dilakukan. Mas Ferdi merekomendasikan gue. Akhirnya terpilih dengan formasi sebagai berikut:


Gue masuk di Tim sayap 1, padahal gue gak cerdas-cerdas amat hehehe, cumen pak Capres meinginkan kader muda yang gesit. di Tim sayap 1 ada gue, mas Ferdi, ketua kader 3: mas Tomy, dan orang dari kader 4: mas Tono. Di Tim sayap 2, ada 20 orang bertubuh kekar dari beberapa divisi, salah satunya ada ketua kader divisi 6: pak Jono. sementara di Tim sayap 3 ada ahli penembak jitu beranggotakan 9 orang.

Besoknya jam 6 pagi, kita semua sudah bersiap-siap di kantor cabang Bogor. "ini.." mas Tomy memberikan pistol ke gue. "ini buat apa mas?" tanya gue. "itu buat jaga-jaga. kita semua udah megang" jawabnya. Gila ini serius banget, gue megang pistol!. "udah kamu simpen di kantong, sebentar lagi berangkat" lanjut mas Tomy. Kitapun berangkat.

Sesampainya di tempat pertemuan, di sebuah gedung tua. "semua siap?" kata pak Capres. "siap!!" kompak kami Tim sayap 1 berseru. Di depan gedung kita disambut oleh orang-orang berbusana hitam. Kita di arahkan untuk masuk kedalam, yang masuk ke dalam Tim sayap 1 bersama pak Capres. Tim sayap 2 berjaga di luar bersama dengan orang-orang berbusana hitam. Sementara Tim sayap 3 berada jauh 50 meter dari tempat pertemuan.

"selamat datang bapak capres" sambut (kita sebut aja) pak Ben, sambil bertepuk tangan. "ayo silahkan-silahkan". Pak Capres dan Pak Ben duduk. Kita tim sayap 1 mengawasi dari belakang bersama orang-orang dari pak Ben yang jumlahnya hanya 2 orang.

"maksud lo apa ngomong kejelekan gue di media, sampe memfitnah gue segala" melotot pak Capres. "simpel aja, gue gak suka sama lo. dan gue gak mau lo memegang kunci pemerintahan di negri ini" senyum sinis Pak Ben. "tindakan lo ini apa semua di dasari karena 'DIA'?" lanjut pak Capres. DIA disini merujuk kepada saingan pak Capres Merah di pilpres 2014 yang sama-sama Capres juga. "Bisa iya.. Bisa Tidak.." jawab Pak Ben. "Bangsat, sekarang lo maunya apa?" pak Capres menggeprak meja. Pak Ben tersenyum dan bilang "gue maunya...". DOR!!!. terdengar suara tembakan dari luar. Kita Tim sayap 1 secara bersamaan dengan orang-orang dari pak Ben, mengambil kuda-kuda dan menodongkan pistol. "gue maunya.. lo mati" lanjut pak Ben. Seorang dari kubu pak Ben menembakkan peluru ke arah pak Capres, dengan sigap mas Tomy maju, dan mengorbankan dirinya sebagai tameng, kemudian menembak balas.

Mas Ferdi mengaktifkan bom asap, hingga seluruh ruangan penuh dengan asap. "MUNDURRRR!!" jerit mas Tono. Deru tembakan terus berbunyi. DOR! DOR! DOR! DOR!!!. Asap di dalam ruangan mulai menipis, seluruh ruangan kembali terlihat. Yang tersisa di ruangan tinggal 2 orang yaitu gue dan pak Ben.

"heh bocah.. lo kenapa gak lari.." kata pak Ben. Alasan gue gak lari adalah karena gue takut dan panik. Gue bingung, sampe-sampe kaki gue gemeteran gak bisa bergerak. "hehh mati aja lo" DOR!!. Pak Ben menembak ke arah gue. Refleks, gue menghindar. gue langsung lari ke luar, Pak Ben mengejar. "mati lo!!" DOR!!!.



Gue tertembak dan jatuh. Pak Ben kembali bersiap menembak gue. Sambil menahan rasa sakit gue coba bangkit dan berlari ke bawah. Pak Ben kembali mengejar. Di bawah, pertarungan makin memanas. Baku tembak sudah tak terelakan. Para petarung terbaik dari kedua kubu berunjuk gigi.


Di tengah pertarungan yang sengit, gue melihat seseorang yang gue kenal. "Dimas!!" teriak gue. Dimas adalah temen lama gue di SD. Sialan, ternyata dia adalah orangnya Pak Ben. Dimas menoleh, "salam!" Dimas mengarahkan pistol ke arah gue dan..DOR!. DOR!. DOR!. Dimas tanpa henti terus menarik pelatuk. Peluru beterbangan ke arah gue dan..ZLEB! ZLEB! ZLEB!. Mas Ferdi pasang badan di depan gue. "mas!!" jerit gue. "LA....RIII!!!" jerit mas Ferdi. Sambil meneteskan air mata, gue berlari meninggalkan mas Ferdi. DOR!. kaki gue tertembak dan jatuh. Gue melihat ke belakang, ternyata pak Ben yang menembak. Pak Ben menghampiri gue. "semua sudah berakhir.." ucapnya.

DOR!..
 DOR!..
  DOR!..

Gue tak sadarkan diri. Apa gue sudah mati?. gue diem sebentar, kemudian mencoba membuka mata. Dan.. ternyata itu semua hanyalah mimpi. Gue bangun, nyender ke tembok. Mimpi gue ini sukses bikin gue berdebar-debar.


6 komentar:

  1. hahahaha pea lu blo, tapi keren (y) haha

    BalasHapus
  2. Waduh, mimpi yang bikin jantung jadi senam :| hihi

    BalasHapus
  3. Udah ngira ini beneran aja, kalau ketembak beneran eh gimana cerita? Haha.
    Ah, keren nih!

    BalasHapus
  4. Halo, nama saya Nona. Dwiokta Septiani Saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati karena ada penipuan di mana-mana. Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial, dan putus asa, saya scammed oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai seorang teman saya merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Anita Charles pemberi pinjaman cepat, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 430 juta dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres pada tingkat bunga hanya 2%. Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah i diterapkan untuk dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan. Jadi saya berjanji saya akan berbagi kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda membutuhkan semacam pinjaman, hubungi Ibu Anita melalui email: anitacharlesqualityloanfirm@mail.com.
    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: septianidwiokta@gmail.com
    Sekarang, semua saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman yang saya kirim langsung ke rekening mereka.

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung di www.salaminzaghi.com